Rapat Konsinyasi Program 2022 LPMP Sulawesi Tengah

Senin, 24 Januari 2022, LPMP Provinsi Sulawesi Tengah melaksanakan Rapat Konsinyasi Program Tahun 2022 yang dilaksanakan di Aula Banua Todea LPMP Provinsi Sulawesi Tengah. Rapat dihadiri oleh Kelompok Kerja (Pokja) yang terdiri dari  Pokja Program Sekolah Penggerak, Pokja Asesmen Nasional, Pokja Fasilitasi Pembelajaran Paradigma Baru, Pokja Kemitraan, Pokja Dana Alokasi Khusus, dan Pokja Dapodik dan Data Mutu Pendidikan. Dalam rapat disampaikan bahwa ada kegiatan yang bisa  digabungkan kegiatannya dimana kegiatan tersebut mengahdirkan pejabat yang ada didaerah. Dengan maksud agar pejabat tersebut bisa mendapatkan informasi yang utuh dari pusat. Dalam rapat juga sudah dicantumkan penjadwalan kegiatan yaitu mulai bulan Februari 2022.

3 komentar pada “Rapat Konsinyasi Program 2022 LPMP Sulawesi Tengah

  • 03/02/2022 pada 01:46
    Permalink

    Saya seorang guru SD diangkat 1 September 1983 . Semenjak saya jadi.guru sampai saat sekarang mau pensiun saya jalani kurikulum silih berganti dan saya melaksanakan juga memperhatikan tentang keaktifan guru dalam kegiatan mengikuti bermacam model cara pembelajaran yang saya sedekah sekali anak murid sampai kelas 6 ( enam ) banyak yang tidak bisa membaca dan menulis juga banyak yang tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Siapakah yang kita salahkan dalam hal ini ? Muridkah ? Gurukah ? Atau Kurikulumkah yang selalu silih berganti membuat.sibuk guru sehingga tak ada waktu untuk memperhatikan murid dalam situasi belajar,. sangat sedih saya memperhatikan seperti ini . Kalau saya ingat – ingat kami dulu kelas 3 (tiga ) sudah pintar membaca , menulis , menambah , mengurang , mengali , dan mengarang.
    Tapi yang saya liat sekarang di kelas 6
    ( enam ) banyak yang tidak bisa membaca dan mengerjakan soal Matematika. Siapa yang kita benarkan ? Apakah masanya ? Tolong Bapak dan ibu tanggapi , Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih..

    Balas
    • 07/02/2022 pada 15:12
      Permalink

      Terima kasih atas masukan anda, namun admin kurang sependapat dengan anda, menurut admin, tidak ada yang perlu di “salahkan maupun di “benarkan”. jika “benar dan salah” terus di cari dalam hal mutu pendidikan tidak meningkat ataupu menurun, apakah menjamin hasilnya akan baik ? Negara ini membutuhkan manusia yang mau berbuat kebaikan, berinovasi untuk kemajuan pendidikan, dan mampu bekerja guna menjawab persoalan mutu pendidikan. Yang lebih penting mampu membenarkan/meluruskan ketika melihat yang keliru, namun bukan mencari yang “benar dan yang salah”.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.