PROGRAM SEKOLAH PENGGERAK KATALIS PENDIDIKAN BERMUTU

Abdul Gani

Widyaiswara LPMP Sulawesi Tengah

Salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2021 adalah Program Sekolah Penggerak (PSP). PSP merupakan salah satu kebijakan merdeka belajar yang direncanakan launching pada tanggal 1 Februari 2021 oleh Mendikbud Nadiem Makarim. PSP ini merupakan program untuk meningkatkan kualitas belajar siswa yang terdiri dari 5 jenis intervensi untuk mengakselerasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran. Dirjen PAUD dan Dikdasmen menjelaskan bahwa ada empat kelompok sekolah di Indonesia berdasarkan tahapan proses transformasi dilihat dari hasil belajar, lingkungan belajar, pembelajaran dan refleksi diri. Sekolah yang berada pada tahap pertama berada 3 tingkat  keatas di bawah level yang diharapkan. Tahap kedua sekolah berada satu sampai 2 tingkat di bawah level yang diharapkan. Tahap ketiga berada pada tingkat  level yang diharapkan dan tahap keempat di atas tingkat  level yang diharapkan. PSP diyakini dapat menjadi katalis pendidikan  yang bermutu di Indonesia karena program ini lebih komprehensif dan lebih inovatif daripada program-program sebelumnya. Beberapa alasan mengapa PSP diyakini dapat menjadi katalis pendidikan yang bermutu di Indonesia?, (1) PSP dirancang berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi program sebelumnya, (2) PSP  melibatkan langsung kementerian pendidikan dan kebudayaan dengan gubernur dan bupati, (3) PSP dilaksanakan dengan lima intervensi yang saling terkait (4) PSP dilaksanakan dengan mengedepankan model penjaminan mutu connected. Penjelasan detail keempat alasan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut.

     Hasil monitoring dan evaluasi  yang dilakukan kemendikbud melalui Uji Kompetensi Guru (UKG)  tahun 2015 menunjukkan bahwa kompetensi guru-guru di Indonesia rata-rata 57. Hasil PISA tahun 2018 menunjukkan  masih ada 60-70% anak Indonesia berada di bawah standar kemampuan sains, menghitung dan membaca. TIMSS tahun 2015 juga menunjukkan interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran tidak merangsang adanya kemampuan analisis dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Berdasarkan data hasil monitoring dan evaluasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa rendahnya prestasi siswa kita dalam membaca, menghitung dan sains disebabkan karena kompetensi guru-guru kita masih rendah. Penyebab lainnya adalah metode pembelajaran guru-guru kita masih banyak yang lebih menekankan pada teacher center, bukan student center terbukti dari hasil TIMSS tahun 2015 yang menjelaskan bahwa  pembelajaran yang diberikan belum mendorong siswa memiliki kemampuan analisis dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Solusi yang dapat dilakukan dengan kondisi ini adalah mengintervensi melalui program sekolah penggerak karena program sekolah penggerak  memungkinkan guru memaksimalkan pembelajaran dengan lebih mengedepankan student center. Wujud konkrit program yang dilakukan adalah memberikan pelatihan kepada guru dengan model pendampingan konsultatif dan asimetris.

Salah satu kelebihan atau nilai tambah PSP adalah dalam pelaksanaan mulai perencanaan sampai implementasi melibatkan langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan para Gubernur dan Bupati/Walikota. Perencanaan PSP diawali dengan adanya MoU antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Gubernur untuk SMA dan SLB, dan dengan Bupati/Walikota untuk PAUD,  SD dan SMP. Bentuk dukungan pemerintah daerah diimplementasikan juga dalam testimoni dalam video yang membuktikan bahwa pemerintah daerah mendukung sepenuhnya program-program ini. MoU yang ditandatangani antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan para Gubernur/Bupati/Walikota memuat 9 pasal. Salah satu pasal yang sangat menentukan implementasi PSP ini adalah pasal 5 tentang pembiayaan. MoU ini akan ditindaklanjuti dalam bentuk perjanjian kerja sama (PKS) antara Direktorat PAUD dan Dikdasmen dengan kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota. Kondisi ini tidak terjadi pada program-program peningkaan mutu sebelumnya.

Pembelajaran kompetensi holistik adalah kompetensi paripurna yang dicita-citakan selama ini dan belum pernah terwujud sebelumnya. Kompetensi holistik menekankan pada pentingnya semua kompetensi dimiliki oleh peserta didik. Pada peserta didik harapannya melahirkan pelajar pancasila dengan indikator pada sikap yaitu beriman dan bertagwa kepada Tuhan yang Maha Esa, kreatif, mandiri, kritis dan gotong royong. Kompetensi keteramnpilan siswa  diharapkan  memiliki keterampilan kolaboratif, kreatif, komunikatif dan pada kompetensi pengetahuan siswa diharapkan memiliki pengetahuan metakognitif, yaitu pengetahuan yang dapat mengantarkan mereka dalam menjalani kehidupan dengan baik.Kompetensi holistik merupakan salah satu dari lima intervensi PSP yang saling terkait. Intervensi lain yang sangat penting dalam PSP adalah pendampingan konsultatif dan asimetris, pengembangan sumber daya sekolah, perencanaan berbasis data dan digitalisasi sekolah.

Penjaminan mutu merupakan cara terbaik dalam memastikan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan atau kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan harapan pelanggan dalam hal ini adalah sesuai dengan harapan siswa. Kualitas produk yang dihasilkan dalm PSP tidak lain adalah siswa yang memiliki akhlak yang baik, pengetahuan yang baik dan keterampilan yang baik. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan (Muyasarah, 2016) bahwa semua kegiatan dan sumber daya pendidikan yang diarahkan pada kepuasan pelanggan dan pelanggan sesungguhnya setiap sekolah adalah siswa. Kepuasan siswa dalam mengikuti pembelajaran merupakan hal yang sangat penting diperhatikan oleh semua stakeholder pendidikan terutama guru. Menggunakan metode pembelajaran tipe connected dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan belajar. PSP ini menerapkan model connected dalam implementasimnya karena implementasi program ini diawali dengan penilaian kinerja satuan pendidikan  yang meliputi tes literasi, tes numerasi, survei karakter dan survei lingkungan pembelajaran. Pertengahan program dilakukan lagi penilaian kinerja satuan pendidikan sebagai pelaksana PSP dilakukan melalui survei, wawancara dan observasi, penilaian kinerja satuan pendidikan melalui tes literasi, tes numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Akhir program dilakaukan penilaian kinerja satuan pendidikan untuk PAUD dengan cara survei kualitas lingkungan belajar, untuk pendidikan dasar dan menengah dengan cara tes literasi, tes numerasi, survei karakter dan surveli lingkungan belajar. Berdasarkan kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan PSP tergantung pada sinergitas yang kuat secara terus menerus antara pemerintah daerah dengan kementerian pendidikan dan kebudayaan. Action penjaminan mutu diimplementasikan mulai perencanaan sampai evaluasi pelaksanaan program. Hasil evaluasi pelaksanaan program  merupakan pintu masuk untuk mengetahui tingkat keberhasilan program dan kendala-kendala yang dialami selama program berlangsung. Kendala-kendala yang dialamai yang menyebakan program tidak berhasil maksimal dijadikan dasar dalam merencanakan program selanjutnya. Berdasarkan hasil refleksi yang mendalam dari semua stakeholder diharapkan lahir  strategi dan metode baru untuk memperbaiki program selanjutnya. Budaya inilah yang harus diwariskan kepada semua warga  sekolah sebagai intisari dari PSP. Kondisi tersebut akan menjadikan pendidikan Indonesia bermutu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *