Memiliki Warna dan Susunan yang Sama, Ini Beda Bendera Indonesia dan Bendera Monako

TRIBUNMATARAM.COM – Perayaan hari kemerdekaan Indonesia baru saja berlalu.

Bendera merah putih masih dapat kita temui di berbagai jalan atau sudut-sudut kota.

Ya, berdasarkan kesepakatan para pendiri bangsa, bendera negara Indonesia memiliki warna merah dan putih.

Kedua warna tersebut terbagi dua secara horizontal, merah di bagian atas, dan putih di bagian bawah.

Namun ternyata, bendera negara semacam itu bukan hanya dimiliki oleh Indonesia.

Sebuah negara kota di Eropa Barat bernama Monako, juga memiki bendera kenegaraan yang secara visual terlihat persis dengan Sang Saka Merah Putih.

Lalu apa perbedaan di antara keduanya?

Sebagaimana disebutkan dalam World Atlas, secara fisik, perbedaan yang dapat dilihat dari kedua bendera berwarna merah dan putih itu adalah dari dimensi rasionya.

Bendera Indonesia memiliki perbandingan lebar dan panjang 2:3, sementara Bendera Monako memiliki perbandingan rasio 4:5.

Sehingga jika dilihat, bendera milik Indonesia terlihat lebih panjang dan ramping dibandingnkan dengam bendera Monako yang cenderung lebih melebar mendekati bentuk persegi.

Makna lebih jauh, yang membedakan keduanya adalah makna yang dikandung oleh masing-masing bendera negara.

Merah dalam bendera Indonesia melambangkan warna darah yang menggambarkan keberanian bangsa dalam mengusir musuh selama masa penjajahan.

Dan warna putih melambangkan kesucian hati bangsa dalam setiap tindakannya.

Sementara itu, warna merah dan putih dalam Bendera Monako merupakan warna yang sangat identik dengan House of Grimaldi. Grimaldi adalah sebuah dinasti yang berperan dalam sejarah berdirinya negara berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu. Merah dan putih diklaim mencerminkan nilai-nilai positif seorang manusia.

Merah digunakan untuk mengasosiasikan daging dalam tubuh manusia, sedangkan putih diartikan sebagai kemurnian dalam berkehidupan spiritual.

Awal dipatenkan Bendera Monako yang berwarna Merah Putih pertama kali dipatenkan pada 4 April 1881 di masa pemerintahan Pangeran Charles III.

Sementara Bendera Indonesia secara resmi menjadi bendera negara pada 17 Agustus 1945, tepat di hari Republik ini menyatakan kemerdekaannya, 74 tahun yang lalu.

Jika dilihat dari waktu penetapannya, Monako memang jauh lebih awal daripada Indonesia.

Hal ini juga pernah menimbulkan permasalahan di antara 2 negara beda benua ini.

Monako sempat tidak setuju atas pilihan warna Bendera Indonesia yang sama persis dengan negaranya.

Bukan hanya tidak setuju, Monako juga tidak mengakui Bendera Indonesia pada saat itu.

Karenanya, Monako sempat meminta Indonesia mengubah corak atau motif benderanya agar tidak terjadi kesamaan yang persis. Pihak Monako merasa lebih berhak atas corak tersebut karena sudah lebih dulu mematenkannya, sebelum Indonesia merdeka.

Namun Indonesia menolaknya dengan alasan pilihan warna merah dan putih didasarkan pada sejarah panjang negara yang sudah berlangsung ratusan tahun lamanya.

Bahkan, sebelum monopoli kerajaan di Monako berlangsung.

Hingga akhirnya Indonesia dan Monako bersepakat, meletakkan dimensi rasio sebagai pembeda antara bendera negara keduanya.  Monako 4:5, dan Indonesia 2:3. (Kompas.com/Luthfia Ayu Azanella)

Sumber : https://internasional.kompas.com/read/2019/08/18/20461121/sama-sama-berwarna-merah-putih-ini-beda-bendera-indonesia-dan-monako?page=all

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Sama-sama Berwarna Merah Putih, Ini Beda Bendera Indonesia dan Monako”

Sempat Kontroversi Saat Dipakai Muhammad Zohri, Berikut Perbedaan Bendera Indonesia dan Polandia!

Tribunstyle melansir dari Intisari Online, perbedaannya hanyalah terletak pada rasio ukurannya.

Bendera Indonesia berukuran 2:3, sedangkan bendera Monako berukuran 4:5.

Kebalikan dari bendera Indonesia dan Monako adalah bendera Polandia.

Negara ini memiliki bendera yang berwarna putih dan merah dengan rasio ukuran 5:8.

Sehingga jika dibentangkan, proporsi warna merah dan putih dalam bendera Polandia akan sangat berbeda dengan merah putih dalam bendera Indonesia.

Editor: Asytari Fauziah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *