Mengapa Anak Tidak Tahan Belajar di Sekolah?

Tulisan ini dilatarbelakangi cerita guru SMA Negeri 1 Sindue tentang peserta didik yang tidak naik kelas dan tidak mau melanjutkan sekolah. Merespon cerita tersebut, Penulis bertanya faktor-faktor penyebab anak tersebut tidak naik kelas. Alasan sekolah memutuskan anak untuk tinggal kelas karena guru menganggap ia belum memiliki kemampuan akademik atau keterampilan sosial yang memadai untuk naik ke kelas berikutnya. Hal ini seiring dengan kriteria kenaikan kelas yang sudah disepakati dalam kurikulum sekolah. Lebih lanjut, gurunya juga menjelaskan bahwa anak yang tinggal kelas tersebut sering tidak masuk ruang kelas saat kegiatan belajar berlangsung.

Jika seorang anak tidak menunjukkan performa yang diharapkan dalam kelas, banyak hal yang perlu ditelaah. Hindari menghakimi bahwa anak malas belajar atau anak tidak memiliki kemampuan untuk menguasai materi pelajaran karena pada dasarnya kemampuan akademiknya rendah. Guru perlu mengetahui permasalahan anak tidak tahan belajar di kelasnya. Apakah ada kesulitan belajar? Anak belum siap belajar? Ada masalah konsentrasi belajar? Ada masalah kemampuan menyesuaikan diri? Atau ada masalah dari guru dalam memberikan pelayanan? Bahkan mungkin saja ada masalah dengan sesama teman sejawatnya? Dengan mengetahui penyebab yang jelas, guru bisa menimbang dengan tepat apakah anak tinggal kelas akan menjadi keputusan yang tepat. Keputusan tentang naik atau tidak naik kelas, biasanya menjadi hasil rapat dewan guru dan kepala sekolah. Sebagian orang percaya bahwa dengan tidak naik kelas anak memiliki kesempatan menambah satu tahun ekstra untuk memperbaiki kemampuan-kemampuan yang belum dikuasainya untuk berhasil di kelas berikutnya. Sebagian yang lain berpendapat bahwa tinggal kelas tidak berpengaruh pada perbaikan kemampuan anak di tahun berikutnya.

Permasalahan menarik yang dikaji dan didiskusikan dalam tulisan ini difokuskan pada hal-hal yang menjadi pemicu anak tidak mampu belajar dengan baik sehingga tidak memenuhi tuntutan hasil belajar minimal untuk bisa naik kelas. Terkait dengan cerita yang melatarbelakangi tulisan ini, pemicu yang akan dibahas adalah munculnya kecenderungan beberapa anak tidak tahan belajar di ruang kelas saat kegiatan belajar berlangsung. Penulis meyakini penyebab anak tidak tahan belajar di kelas sangat beragam, bisa karena faktor internal maupun eksternal.

Anak tidak tahan belajar di kelas merupakan indikasi dari anak tidak mampu menyesuaikan diri dengan komunitas belajar di kelasnya. Menurut Kartini Kartono (2002:56), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan lingkungannya, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, dan emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien dapat dikikis habis. Senada dengan pendapat tersebut, Enung Fatimah (2006:198) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungannya. Di antara lingkungan yang dihadapi anak di sekolah yaitu kondisi akademik, yaitu kegiatan yang berhubungan dengan pengetahuan yang harus dipelajari selama individu menempuh pendidikan. Kegiatan akademik menuntut anak untuk berhubungan dengan guru, teman sejawat, dan materi pelajaran yang diajarkan.

Penyesuaian diri anak terhadap guru tergantung pada sikap guru dalam menghadapi peserta didiknya. Jika guru memahami perbedaan individual peserta didik maka akan lebih mudah mengadakan  pendekatan terhadap berbagai masalah yang dihadapi peserta didiknya. Hubungan yang harmonis antar guru dan peserta didik akan menciptakan kedekatan hati. Sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan maksimal. Seorang guru harus dapat menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan bagi peserta didiknya di dalam kelas.

Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk membangun hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik:

  1. Kenali peserta didik kita satu persatu baik namanya,tempat tinggalnya, dan karakternya
  2. Berikan mereka penghargaan atas apa yang mereka lakukan walaupun hanya dengan acungan jempol atau usapan lembut di kepalanya.
  3. Beri mereka kesempatan untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang cara belajar yang mereka inginkan
  4. jangan langsung menghakimi mereka jika melakukan kesalahan, cari informasi dahulu tentang masalah yang mereka hadapi.
  5. Dekati jika mereka terlihat dalam keadaan sedih sehingga kita dapat memberikan solusi atas masalah yang mereka hadapi.

Hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik akan membuat pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan.  Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi peserta didik. Di sekolah mereka mendapatkan pelayananan yang baik dalam bidang pendidikan. Di samping itu, harmonisasi hubungan peserta didik dengan teman sejawatnya juga sangat mempengaruhi kenyamanan anak tinggal untuk belajar di kelas.

Penyesuaian diri dengan teman sejawat sangat penting bagi perkembangan peserta didik terutama perkembangan sosial. Teman sejawat adalah kelompok anak-anak yang hampir sama usianya, kelas dan motivasi bergaulnya. Dalam pergaulan teman sejawat seorang peserta didik harus dapat bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan kelompok teman sejawat, sebaliknya apabila tidak mengikuti aturan kelompok teman sejawat maka akan dijauhi oleh teman-teman di kelompoknya.

Kondisi akademik lain yang juga cukup berat dihadapi oleh anak untuk bisa menyesuaikan diri dalam belajar di kelasnya adalah berkaitan dengan materi pelajaran yang harus dikuasainya. Permasalahan yang sering dialami anak-anak dalam penyesuaian diri terhadap materi pelajaran adalah tidak cukupnya modal prasyarat yang dimiliki untuk mempelajari materi pelajaran tertentu. Sebagai contoh: lemahnya pemahaman dan keterampilan dasar dalam perhitungan matematika manjadi penghambat dalam memahami perhitungan matematika yang lebih kompleks. Demikian pula dalam mempelajari bahasa, jika perbendaharaan kata sangat minim maka anak akan kesulitan dalam memahami wacana teks atau dialog yang dikembangkan dalam belajar di kelasnya. Ketika anak kesulitan masuk untuk memahami alur materi karena modal pemahaman prasyarat yang tidak memadai maka pemahaman dapat terputus. Jika hal ini tidak segera diatasi akan terjadi akumulasi kesulitan yang berdampak pada pemahaman anak “tidak nyambung” dengan pembahasan materi yang disajikan oleh guru dan/atau dibahas oleh teman-temannya di kelas. Pada kondisi yang demikian, belajar di kelas terasa sangat lama karena anak merasa jenuh bahkan tersiksa belajar di kelas. Anak tidak tahan berlama-lama di kelas, ingin menghindar dan bisa saja nekat tidak mau masuk kelas saat mata pelajaran berlangsung. Dalam kondisi seperti ini anak lebih memilih di luar kelas dan dihukum dari pada tersiksa di dalam kelas karena mempelajari sesuatu yang tidak akan bisa dipahaminya.

Selain kondisi akademik yang terkait dengan tidak memadainya modal prasyarat dalam mempelajari materi pelajaran tertentu, lemahnya konsentrasi belajar peserta didik juga bisa menjadi penyebab anak tidak tahan belajar di kelas. Konsentrasi belajar adalah kemampuan untuk memusatkan perhatian pada suatu objek dan mengesampingkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan objek tersebut. Konsentrasi belajar anak dapat berjalan secara efektif apabila anak mampu menikmati kegiatan belajar yang sedang dilakukan. Anak yang memiliki konsentrasi belajar baik akan lebih memahami apa yang sedang dipelajari. Aspek-aspek konsentrasi belajar adalah (a) pemusatan pikiran, (b) motivasi, (c) rasa kuatir, (d) perasaan tertekan, (e) gangguan pemikiran, (f) gangguan kepanikan, dan (g) kesiapan belajar. (Thursan Hakim, 2005).

Kesiapan belajar anak merupakan keadaan peserta didik yang sudah siap akan menerima pelajaran, sehingga anak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya dan dapat memperoleh hasil berupa nilai yang memuaskan sebagai reward atas usahanya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar. Jika hal ini tidak terjadi, bahkan jika sebaliknya, anak sering tidak siap mengikuti kegiatan belajar bersama teman-teman sejawatnya di kelas maka anak khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan saat belajar di kelas sehingga enggan/malas masuk kelas.

Menyikapi kondisi seperti ini, seyogyanya guru cepat tanggap dan berupaya melakukan investigasi secara lebih mendalam permasalahan yang dihadapi peserta didiknya. Pendekatan individual dengan suasana akrab yang tidak memvonis bahkan memberikan penghargaan terhadap keterbukaan anak perlu dilakukan. Layanan individu untuk mengejar ketertinggalan juga harus dilakukan. Perbaikan layanan juga diarahkan kepada upaya meningkatkan kemampuan anak untuk menyesuaikan diri berkomunikasi secara terbuka dengan guru dan teman sejawatnya, serta dengan lingkungan fisik dan sosialnya.

Tidak selamanya anak berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin di luar dirinya. Dalam hubungannya dengan rintangan-rintangan tersebut ada anak-anak yang dapat melakukan penyesuaian diri secara positif, namun ada pula yang melakukan penyesuaian diri secara negatif. Dalam hal ini karakteristik budaya yang diwariskan kepada individu anak melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat berpengaruh. Oleh karena itu dibutuhkan usaha yang sinergis antara pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memberikan pelayanan terbaik untuk suksesnya pendidikan anak. Oleh: Abu Hasan

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Enung Fatimah. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: Pustaka Setia.

Kartini Kartono. (2002). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.

Thursan Hakim. (2005). Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara.

2 Comments on “Mengapa Anak Tidak Tahan Belajar di Sekolah?”

  1. Saya Pikir anak tidak tahan di rumah memang banyak faktor…..beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk membangun hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik:

    Kenali peserta didik kita satu persatu baik namanya,tempat tinggalnya, dan karakternya
    Berikan mereka penghargaan atas apa yang mereka lakukan walaupun hanya dengan acungan jempol atau usapan lembut di kepalanya.
    Beri mereka kesempatan untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang cara belajar yang mereka inginkan
    jangan langsung menghakimi mereka jika melakukan kesalahan, cari informasi dahulu tentang masalah yang mereka hadapi.
    Dekati jika mereka terlihat dalam keadaan sedih sehingga kita dapat memberikan solusi atas masalah yang mereka hadapi.

    Saya setuju….. salam

    http://www.blogmatematika.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *