Sarjana Takut Menganggur?

Tingginya ketidaksesuaian program pendidikan dengan lapangan kerja menjadi persoalan serius di negeri ini. Mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan, 3 hingga 4 dari 10 orang bekerja tidak sesuai dengan program pendidikannya.

Angka tersebut cukup besar, mengingat angkatan kerja Indonesia mencapai dua juta orang setiap tahunnya. Dari seluruh angkatan kerja itu, 750.000-800.000 orang berasal dari perguruan tinggi. Menteri Ketenagakerjaan RI Muhammad Hanif Dhakiri mengatakan, angka mismatch yang mencapai 63 persen itu perlu segera diatasi.

Persoalan lain yang mesti dirampungkan adalah suplai tenaga kerja yang melebihi permintaan pasar. Sayangnya, sebagian sumber daya manusia Indonesia tidak memiliki kualifikasi serta kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Saat ini, industri berubah sangat cepat. Jika pendidikan masih berpola sama, maka tenaga kerja yang dihasilkan dunia pendidikan pasti ketinggalan dibandingkan perubahan di dunia usaha itu sendiri. Enggak akan ngejar!” kata Hanif Dhakiri kepada Kompas.com, Jumat (26/1/2018).

Maka dari itu, tak perlu menunda lagi untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan. Tujuannya supaya mereka siap menghadapi bonus demografi pada 2045 mendatang. Tentu saja keterampilan dan pengetahuan yang mereka kuasai mesti relevan dengan pasar kerja di masa depan.

Agar kompetensi terasah, lembaga pendidikan, utamanya universitas, mesti membekali  mahasiswa dengan praktik kerja di sektor industri yang sesuai.

Seperti yang dilakukan Podomoro University, institusi pendidikan tinggi ini menggabungkan konsep kewirausahaan dan kurikulum berstandar internasional agar dapat melahirkan lulusan yang siap bekerja dan juga siap berwirausaha.

Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis Teh Menari dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.

Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis Teh Menari dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.(Podomoro University)

Universitas itu kini memiliki 10 program studi, yakni Kewirausahaan, Akuntansi, Bisnis Perhotelan, Hukum Bisnis, Arsitektur, Manajemen Rekayasa dan Konstruksi, Teknik Konstruksi Bangunan, Teknik Lingkungan, Perencanaan Wilayah dan Kota, serta Desain Produk. Yang terpenting, pembelajaran kewirausahaan sangat melekat di semua program studi yang ada.

Kampus yang didirikan pada 2014 oleh Yayasan Pendidikan Agung Podomoro itu memang menggandeng Babson Global Inc, Amerika Serikat, yang diakui andal dalam kewirausahaan.

Mahasiswa yang duduk di semester I dan II wajib mengikuti mata kuliah Thingking and Acting like an Entrepreneurial Leader (TAEL), yang hanya ada di kampus ini.

Saat duduk di semester pertama, mahasiswa diajarkan membuat business plan (rancangan bisnis)sesuai dengan kurikulum yang diadopsi dari Babson. Dengan begitu, mereka distimulasi untuk bisa mengembangkan ide bisnis serta bekerja sama dalam tim.

“Dengan mengikuti mata kuliah itu, mahasiswa diajak untuk memiliki pola pikir entrepreneurial,” kata Kepala Podomoro University Center of Entrepreneurial Leader (PUCEL) Dr Wisnu Sakti Dewobroto, di kampus Podomoro University, Jumat (16/3/2018).

Tak berhenti sampai di situ, business plan setiap tim mahasiswa yang dibuat pada semester pertama itu akan diuji dalam Business Plan Competition.

Kompetisi itu digelar pada semester kedua perkuliahan. Kegiatan tahunan itu menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk unjuk hasil kerjanya di hadapan para pakar wirausaha. “Mereka akan pitching di hadapan juri, yang salah satunya dari Babson Global,” tuturnya.

Learning by doing

Masa kuliah adalah waktu yang tepat melengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Selain laboratorium di kompleks kampus, mahasiswa Podomoro University juga bisa terjun magang di berbagai perusahaan besar.

Maket karya mahasiswa Podomoro University. Institusi pendidikan tinggi tersebut membekali mahasiswanya dengan program magang di berbagai perusahaan baik di dalam maupun luar negeri.
Maket karya mahasiswa Podomoro University. Institusi pendidikan tinggi tersebut membekali mahasiswanya dengan program magang di berbagai perusahaan baik di dalam maupun luar negeri. (KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI)

Para mahasiswa, khususnya program studi Bisnis Perhotelan, bisa memilih lokasi magang di dalam ataupun di luar negeri. Pada semester ketiga, mahasiswa menjalani magang operasional selama 6 bulan. Lalu, pada semester ke-8, mereka akan magang lagi untuk bidang manajerial.

Seperti yang dijalani Bella, mahasiswa angkatan 2015 program studi Bisnis Perhotelan. Saat memasuki semester ketiga, ia memilih magang di The Meydan Hotel, Dubai.

Hotel tempatnya magang merupakan bintang lima yang bisa dijangkau 15 menit dari Dubai International Airport, serta 10 menit ke Dubai Mall dan gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa. “Di Dubai, perkembangan bisnis perhotelannya sangat pesat,” katanya.

Sementara itu, Theophilus Hans yang juga kuliah di Program Studi Bisnis Perhotelan memilih Hotel Shangri-La Jakarta sebagai lokasi magang. Hans yang mengambil program peminatan kuliner ingin memperkaya keterampilan untuk mengolah pastry.

“Shangri-La merupakan salah satu hotel terbaik di Jakarta, khususnya di bidang pastry. Saya berharap bisa menambah koneksi dan skill di bidang pastry dengan menjalani program internship di sini,” tuturnya.

Dengan pengalaman di bidang kerja yang selama ini digeluti pengembang kawakan Agung Podomoro, seperti kontruksi, arsitektur, perhotelan, kewirausahaan, dan keuangan, Podomoro University memberi porsi yang cukup banyak untuk pelatihan kerja mahasiswa.

Mahasiswa diasah kompetensinya tidak hanya di laboratorium yang ada di kompleks kampus, tetapi juga di proyek-proyek Agung Podomoro yang disebut laboratorium organik. Seperti yang dialami Muhammad Nuril Huda, mahasiswa angkatan 2015 Podomoro University.

Saat libur semester keempat, Nuril mengikuti program magang selama dua bulan. Ia sengaja memilih Borneo Bay Residence di Balikpapan yang merupakan proyek mixed use. Proyek properti Agung Podomoro Land yang dibangun di tepi pantai itu memang terdiri atas apartemen, ritel, mal, hotel, dan fasilitas lanskap.

“Sangat berbeda antara bekerja di kantor dan di lapangan. Di sana, saya bisa melihat gambar-gambar kerja proyek bangunan highrise 25 lantai,” katanya saat dihubungi, Jumat (23/3/2018).

Ia merasa beruntung bisa magang di megaproyek tersebut. Sebab, tidak semua mahasiswa arsitektur bisa mencecap pengalaman bekerja di proyek mixed use.

Ternyata tak mudah ikut terlibat dalam proyek properti. Setiap hari, Nuril mengikuti supervisor arsitektur ke lapangan. Mulai pukul 09.00 pagi hingga 05.00 sore, ia mesti naik turun proyek 25 lantai itu.

Mahasiswa Program Studi Arsitektur Podomoro University memang wajib mengikuti program magang, minimal dua kali, yang bisa dilakukan setiap liburan.

Setelah bekerja selama dua bulan di Balikpapan, Nuril menilai magang perlu dilakukan mahasiswa, utamanya yang mempelajari ilmu teknik. Tanpa magang, mahasiswa arsitektur bagaikan buah mengkal, kuat menguasai teori, tetapi lemah secara aktual di dunia kerja.

“Selain itu, dengan magang, kita bisa tahu tren dan dunia kerja arsitektur seperti apa. Kita juga bisa belajar bagaimana berhubungan dan berkomunikasi dengan berbagai pihak di dunia konstruksi,” tuturnya.

Maket karya mahasiswa Podomoro University. Institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan Agung Podomoro membekali mahasiswa dengan program magang, baik di grup usaha Agung Podomoro sendiri maupun di instansi lain.
Maket karya mahasiswa Podomoro University. Institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan Agung Podomoro membekali mahasiswa dengan program magang, baik di grup usaha Agung Podomoro sendiri maupun di instansi lain.(KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI)

Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pengalaman terlibat langsung dalam proyek sebuah pengembang raksasa merupakan proses pembelajaran yang mahal bagi seorang mahasiswa.

“Pengalaman kami membangun dan mengelola superblok, apartemen, pusat perbelanjaan dan perkantoran, hotel, trading center, serta kawasan industri dan juga kawasan hunian membantu kami memahami kualitas lulusan yang dibutuhkan oleh dunia usaha,” kata Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Agung Podomoro, Trihatma Kusuma Haliman, dalam laman podomorouniversity.ac.id.

Dengan pendidikan yang berbasis kewirausahaan serta keterlibatan langsung dan magang di dunia industri, lulusan Podomoro University bakal memiliki pengetahuan dan semangat seorang entrepreneur. Sarjana dari kampus itu pun berpeluang besar untuk bisa terserap dalam grup usaha Agung Podomoro ataupun perusahaan besar lain di Indonesia.

 

Penulis : Kurniasih Budi
Editor : Dimas Wahyu

https://edukasi.kompas.com

 

One Comment on “Sarjana Takut Menganggur?”

  1. Yah itulah kita Indonesia, yang lebih mengkhawatirkan adalah semakin mudahnya tenaga kerja asing yang masuk ke negeri ini sudah pasti akan menggeser tenaga kerja indonesia yang “kurang profesional dan etos kerja yang rendah”. Yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tenaga kerja yang profesional dan etos kerja yang kuat adalah lembaga-lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan yang rendah seperti PAUD dan TK adalah lembaga yang pertama sebagai peletak dasar dan sekaligus sebagai gerbang awal pembentukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, tapi ini tentunya tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua yang pertama dan utama dalam rangka pembentukan manusia seutuhnyahnya. Tanggung jawab otang trua inilah yang sepintas terlihat mudah, tetapi sesungguhnya sangat berat dan sulit jika kedua orang tuanya tidak memiliki seperangkat pengetahuan yang tepat dalam mendidik anak-anaknya lebih-lebih lagi saat ini yang dengan mudahnya informasi dari berbagai belan dunia ada digemgaman anak-anak, hal ini yang menggiring anak menjadi manusia yang serba instan. Coba kita saksikan sendiri mulai dari rumah kita sendiri, ternyata silaturahmi dalam keluarga nyaris mulai luntur disebabkan oleh adanya kasih sayang orang tuah yang berlebihan dan sebanarnya keliru. Sebagi contoh ada sebuah keluarga yang pernah menyampaikan keluhan tentang kasus ini. Keluarga tesebut mengakui bahwa anak-anaknya jarang sekali bertegur sapa seperti pada masa ia masih anak-anak dalam keluarganya dahulu. Anak-anaknya sebelum tidur pasti masing-masing menggenggam hp dan sibuk dengan aktifitasnya sendiri dengan hp-nya terebut sampai mereka tertidur denga hp masih di tangan mereka, begitu pula ketika bangun tidur yang dicari terlebuh dahulu pasti hp, bukan bangun dengan berdo’a melainkan sibuk dengan membuka apa saja informasi baru pada layar kecil miliknya. Itulah keluhan orang tua tersebut sehingga penulis sedit menyarankan “coba terapkan aturan keluarga yang didasarkan dengan ajaran yang benar dalam sebuah lembaga yang namanya KELURGA. Keluarga adalah sebuah lembaga sekaligus sebagai lembaga pendidikan utama bagi setiap orang temasuk otang tau. “Tegakkan peratuaran dalam keluarga” dan lihat hasilnya seteha beberapa mingu atau sebulan kemudian. Bagi keluarga muslim, usahakan untuk selalu mendo’akan anak-anak. Salah satunya do’a yang yang terdapat dalam Surah Ibrahim ayat 40 dan do’a-do’a lainnya untuk anak keturunan kita, Insya Allah akan terkabul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *